Kamis, 02 Oktober 2008

Estetika Erotis: Bagian Pertama

Bagian Pertama

Norma dalam menakar seks?

Situasi kontemporer memaparkan dunia perbatasan. Moral yang berada di tengah atau moral abu-abu. Dunia yang belum lepas dari tradisi lama namun belum mencapai kemapanan nilai. Moral abu-abu ini membuat kegamangan tentang mana yang baik dan yang tidak.

"Umur 13 sudah berhubungan intim dengan teman sekelas. Sejak itu tidak mau lagi pacaran serius. Gonta-ganti cowok dan berhubungan intim hanya untuk senang-senang saja...."

"Saya sering bolos. Nongkrong di cafe terus lanjut ke hotel. Kalau sudah on saya punya kebiasaan tripping di pangkuan orang, nggak peduli cowok atau cewek."

"Kegadisanku hilang di Sydney. Setelah itu kerajingan untuk bersebadan."

"Lampu dim, masuk mobil. Seks, oke. Easy going, karena virginitasnya sudah terlanjur dicaplok pacarnya. Hanya untuk uang taksi dan belanja sedikit di toko, kebutuhan sehari-hari, baju atau apa saja, ia rela dibawa."
(Kompas, 29 September 1996)

Lagi-lagi perempuan sebagai contoh, ya.

Nah, kalau gitu lanjut tentang iklan perempuan di media.

Ini menjadi Manajemen Tubuh

Kata Ade Armando, tubuh perempuan menyangkut ukuran, bentuk, dan keserasian lebih penting daripada kualitas kemanusiaan ketika itu menyangkut media, agar media laku. Perempuan adalah santapan minat visual pria. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kejenuhan terhadap ketelanjangan, tetapi butuh variasi-variasi ketelanjangan yang lain. Turunan dari ketelanjangan-ketelanjangan.

Hidup konsumen menciptakan kebudayaan hawa nafsu untuk kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan seks. Inilah Ekonomi Libido, kata Baudillaurd.

Bagaimana menakarnya?

Seks dalam konteks norma patut dilihat sebagai keangkuhan kaum victorian, demikian kata Foucault. Maka seks itu tabu, dilarang membicarakannya, menutup mata, menyumbat telinga.
Represi untuk memaksakan kebungkaman menyeluruh dan patuh.

"Yasmin, aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?"
(Ayu Utami, Saman,1998)

Senin, 29 September 2008

Membaca Hermawan

Untuk mengasah dan mengingat-ingat kembali Marketing, maka saya mencoba untuk "membaca Hermawan" yang kolomnya muncul di Kompas Cetak dan memberikan pendapat-pendapat saya pribadi.

Kamis, 18 September 2008

Benarkah Kematian adalah Akhir Eksistensi?

Kematian adalah keniscayaan. Tetapi apakah kematian adalah sebuah hak?

Kembali ke titik awal. Hidup adalah sebuah eksistensi. Maka banyak yang memperjuangkan kehidupan supaya tetap hadir dan berada.

Ketika kehadiran itu sudah kehilangan raison d'etre sebagai sebuah alasan kehadiran menjadi kabur seperti rasa sakit, kehilangan harapan, kesulitan ekonomi, atas nama cinta yang lebih luhur daripada nyawa, apakah eksistensi itu masih perlu.

Baiklah, seandainya diputuskan bahwa mati adalah solusi, mengakhiri sebuah eksistensi. Keputusan telah dibuat.

Apakah kita masih hadir? Apakah hutang-hutang dan dosa-dosa kita terhapuskan? Apakah legacy kita ikut musnah? Tidakkah "keterkenalan" kita entah itu famous atau notorius juga hilang?

Ya, secara fisik, eksitensi kita selesai. Tetapi jiwa, hati, roh, sikap, perbuatan....

akankah ber-reinkarnasi......?

mungkin kita meninggalkan sikap-sikap dan filosofi kepada anak-anak?
"seperti teh dalam gelas yang jatuh ke lantai...... berserak... toh dia tetap teh.. yang kalau dikumpulkan kembali dalam suatu gelas....dia masih merupakan teh......"
demikian sikap-sikap, roh, filosofi, kultur.

Jadi siapakah yang memiliki eksistensi?

Rabu, 03 September 2008

Life is living love.

Pada suatu kala,
dimana para batu tertumpuk,
terserak di mana saja.

Tas ransel penuh dengan bekal,
berat,
bukan menambah aman,
tapi menambah pikulan.

Pikiran mencoba menata,
karna penuh,
manajemen inspirasi menjadi kata,
yang diam,
tak berkata.

Seperti sebuah game,
kita tidak diberi jeda,
tapi level bertambah.

Konsentrasi.
Fokus.

Tak terpikir yang lain,
otomatis
terbengkalai.

Sebuah game,
yang memberi rintangan,
tidak peduli,
jari cuma sepuluh.

Badan ikut kanan kiri,
pikir bisa mengubah game pad.

Cape deh.

So, lentera jiwa seperti apa.

Mengapa mau?

Kita bekerja untuk apa?
Bersusah menghadapi game ini buat apa?
Kejenuhan ini untuk siapa?

Hidup adalah untuk menghidupi cinta.

Bila waktu telah tiba,
Aku bertanya:

apa yang kau katakan
di detik terakhir?

Bila saja,
aku kaya.
aku terkenal.

Apa yang ku kata?

Kenistaan?
Jabatan?
Achieving life?

Minggu, 24 Agustus 2008

36 Tahun di Dunia

Dear All,

menarik bukan kalau kita sudah cukup lama menghuni dunia ini.

Semasa kecil, kita melihat angka 36 itu merupakan angka yang luar biasa.

Kita masih berpikir tentang masa depan yang terentang panjang.

Masih punya cita-cita.

Itu kalau kitat di umur sepuluhan tahun.

Bila itu berlipat tiga;

apa yang ada di benak kita?

Lelah?
Cita-cita?
Semangat?
Penyesalan?
Keinginan yang belum terlaksana?

Hari ini adalah hari memulai.

Dari remah-remah yang kecil,
kita kumpulkan.
Lelah,
tapi kita bisa melihat hasil.

Minggu, 20 Juli 2008

8 Juli 2008: I Quit [keluar dari D1 BI]

Hari Selasa, 8 Juli 2008 kami memutuskan keluar dari mainstream yaitu mengundurkan diri dari D1 Beta Indah. Dengan demikian hubungan resmi dengan XL berakhir sudah.

Hari Terakhir Pembangunan Ruko TalangKapuk

Hari Selasa, 15 Juli 2008 merupakan hari terakhir secara resmi bangunan di Talang Kapuk selesai.