Jumat, 06 Januari 2023
Selasa, 14 November 2017
Sabtu, 19 September 2009
detikcom : Tak Ada Kegentingan, Perpu Plt Sementara KPK Tak Perlu Diterbitkan
title : Tak Ada Kegentingan, Perpu Plt Sementara KPK Tak Perlu Diterbitkan
summary : Perpu PLT KPK dinilai belum perlu dikeluarkan. Hal mendesak yang perlu diintervensi Presiden SBY adalah menghentikan penyidikan Polri terhadap Chandra dan Bibit. Demikian pendapat Eryanto Nugroho dari PSHK. (read more)
summary : Perpu PLT KPK dinilai belum perlu dikeluarkan. Hal mendesak yang perlu diintervensi Presiden SBY adalah menghentikan penyidikan Polri terhadap Chandra dan Bibit. Demikian pendapat Eryanto Nugroho dari PSHK. (read more)
Rabu, 18 Maret 2009
Saya Bangga Menjadi Bagian SANTO YOSEF
Sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan perjalanan lembaga pendidikan Santo Yosef di Kota Lahat. Tanggal 19 Maret 2009 ini akan menjadi momentum Dies Natalis Santo Yosef, yang untuk SD sudah berumur 73 tahun, SMP berumur 71 tahun, dan SMA berumur 42 tahun. Perjalanan yang sudah berakar dan memberikan banyak kontribusi bagi banyak orang.
Ada satu yang bagi saya berkesan untuk diangkat:
Saya bangga menjadi bagian dari SANTO YOSEF.
Semangat berbagi, entah itu sebagai alumni atau mungkin bagi siswa-siswa yang masih di Santo Yosef. Kita sebagai bagian kesatuan keluarga besar. Kebersatuan itulah yang membentuk semangat ini. L'esprit de Corps. Kita sebagai satu kesatuan keluarga. Untuk itulah saya bangga menjadi bagian dari kesatuan ini.
Kebanggaan itu akan semakin berarti bila kita mampu menerapkannya sebagai manusia yang berbagi. Entah itu kepada manusia atau lingkungan sekitarnya. Maka, sudah saatnya juga alumni juga disapa dan dirangkul.
Kita membangun alumni yang saling mendukung, kompak, setia kawan, dan berbagi untuk sesamanya.
Kamis, 04 Desember 2008
Pisau Analisis Eksistensialisme
Untuk memahami suatu pengertian sesuai aslinya, dilakukan pembersihan. Obyek disaring dari hal-hal tambahan maupun cara pemahaman yang lain-lain. Ini disebut sebagai reduksi. Jadi ada hal-hal yang sedapat mungkin tidak perhatikan dulu.
Cara "memasak":
a. Unsur tradisi yaitu segala yang diajarkan oleh orang lain mengenai obyek bersangkutan disisihkan terlebih dahulu. Baik itu teori maupun hasil ilmu pengetahuan lainnya. Pembersihan ini melihat prasangka ygn secara prinsip tidak diuji lagi tetapi dikembalikan lagi pada otonomi manusia.
b. Obyek yang diteliti disebut 'fenomena' yang berisi data sederhana tanpa ditambah hal lain.
1. Fenomena alam itu fakta yang dilihat dalam observasi empiris yang dialami menurut kehadirannya tetapi juga bisa sebagai pengalaman rohani. Ini adalah struktur yang hakiki.
2.
Cara "memasak":
a. Unsur tradisi yaitu segala yang diajarkan oleh orang lain mengenai obyek bersangkutan disisihkan terlebih dahulu. Baik itu teori maupun hasil ilmu pengetahuan lainnya. Pembersihan ini melihat prasangka ygn secara prinsip tidak diuji lagi tetapi dikembalikan lagi pada otonomi manusia.
b. Obyek yang diteliti disebut 'fenomena' yang berisi data sederhana tanpa ditambah hal lain.
1. Fenomena alam itu fakta yang dilihat dalam observasi empiris yang dialami menurut kehadirannya tetapi juga bisa sebagai pengalaman rohani. Ini adalah struktur yang hakiki.
2.
Gerakan Eksistensialisme Kaum Muda
Eksistensialisme mengkritik masyarakat modern yang terlalu bersikap optimis terhadap kemajuan peradaban. Masyarakat modern semakin jaduh dari nilai martabat dan hak manusia. Orang mengejar prestasi produktivitas.
Dunia produksi dengan dunia konsumsi tidak memiliki persentuhan nyata, sehingga masyarakat mampu memproduksi tetapi tidak mampu menikmati. Sebaliknya, masyarakat yang mampu menikmati tetapi tidak menghasilkan. Produksi yang menumpuk dan konsumsi yang berlebihan bukanlah kenyataan yang sebenarnya.
Kaum muda merasakan situasi ini sebagai pengalaman konkret kehidupan sehari-hari. Mengamuknya massa dalam pertunjukan musik, keberingasan pelajar dalam tawuran massal, pertunjukan teater mahasiswa yang radikal. Ini adalah protes dan wujud frustasi mereka terhadap sitausi sosial yang ada.
Dengan situasi yang sesak ini mendorong kaum muda mengekspresikan dirinya. Ekspresi ini muncul sebagai upaya menunjukkan kebebasan individu. Salah satunya lewat seni sebagai ekspresi individual. Kesenian model ini mencerminkan idenitas pencipta seni dan membuka cakrawala baru dalam dunia seni yang berbeda dengan kesenian tradisional yang bersifat anonim.
Inilah salah satu wujud gerakan eksistensial kaum muda. Kaum muda menjadi subyek terhadap pemikirannya, bukan lagi obyek yang bersifat impersonal dan abstrak. Kaum muda mengekspresikan dirinya secara konkret dan sungguh dekat dengan kehidupan nyata mereka.
Dunia produksi dengan dunia konsumsi tidak memiliki persentuhan nyata, sehingga masyarakat mampu memproduksi tetapi tidak mampu menikmati. Sebaliknya, masyarakat yang mampu menikmati tetapi tidak menghasilkan. Produksi yang menumpuk dan konsumsi yang berlebihan bukanlah kenyataan yang sebenarnya.
Kaum muda merasakan situasi ini sebagai pengalaman konkret kehidupan sehari-hari. Mengamuknya massa dalam pertunjukan musik, keberingasan pelajar dalam tawuran massal, pertunjukan teater mahasiswa yang radikal. Ini adalah protes dan wujud frustasi mereka terhadap sitausi sosial yang ada.
Dengan situasi yang sesak ini mendorong kaum muda mengekspresikan dirinya. Ekspresi ini muncul sebagai upaya menunjukkan kebebasan individu. Salah satunya lewat seni sebagai ekspresi individual. Kesenian model ini mencerminkan idenitas pencipta seni dan membuka cakrawala baru dalam dunia seni yang berbeda dengan kesenian tradisional yang bersifat anonim.
Inilah salah satu wujud gerakan eksistensial kaum muda. Kaum muda menjadi subyek terhadap pemikirannya, bukan lagi obyek yang bersifat impersonal dan abstrak. Kaum muda mengekspresikan dirinya secara konkret dan sungguh dekat dengan kehidupan nyata mereka.
Label:
Cultural Studies,
Philo Sophia
Rabu, 03 Desember 2008
Masifikasi dan Kolektivisme [SK]
Kehilangan identitas atau menyembunyikan identitas individu dibalik identitas umum merupakan hal yang sangat dikhawatirkan SK. Hal ini menghilangkan ketunggalan pribadi manusia karena membuang individualitas, perbedaan-perbedaan pribadi, maupun penghayatan masing-masing subyek. Pribadi akan tergabung dalam pendapat-pendapat massa, sehingga pribadi menjadi terasing akan dirinya sendiri, teralienasi, dan tidak menjalani eksistensinya secara sejati. Ini merupakan pertarunggan melawan masifikasi, pertarungan menjadi massal, ini merupakan tirani kesamaan. Semua orang harus sama dan sependapat atas nama kolektivisme.
Massa atau kolektivitas, manusia bukan saja dirampas ketunggalannya, tetapi juga direduksi menjadi fraksi bahkan berkurang kesadaran tanggungjawabnya atau melemah rasa tanggung jawabnya diantara kerumunan itu. Manusia melupakan makna eksistensi dan lupa pentingnya mawas diri.
SK akhirnya menyatakan bahwa Subyektifitas merupakan Kebenaran Pertama. Dasar bagi eksistensi pribadi. Subyektifitas adalah TUGAS bagi setiap manusia.
"...becoming subjective is the task proposed to every human being."
Mengada sebagai manusia bukan hanya fakta, lebih dari itu. Eksistensi adalah tugas bagi manusia. Eksistensi itu dijalani dengan kesejatian sehingga tidak semu, sehingga menjadi sesuatu yang etis dan religius. Eksistensi itu disertai tanggung jawab- bukan seperti berlindung dibalik kedok massa. Jadi eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan serta bertindak atas tanggung jawabnya sendiri.
Publik massa adalah abstraksi dan bukan realitas. Yang berbahaya adalah ketika publik dianggap nyata. Misal, rakyat.... pertanyaannya rakyat yang mana?
"Publik, yang merupakan segala-galanya dan sekaligus ketiadaan, adalah kekuatan paling berbahaya dan yang paling berarti: orang bisa berpidato kepada seluruh bangsa atas nama publik, tetapi bagaimanapun publik adalah kurang artinya dibandingkan dengan seorang manusia tunggal, betapapun ia tak penting."
Orang sering berusaha untuk diperhitungkan dengan masuk dalam kelompok atau menggalang kekuatan bersama. Ini adalah bukti bahwa orang demikian tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Mengandalkan kekuatan massa adalah kelemahan etis.
Merupakan kekeliruan bila individu bergabung dalam suatu kelompok karena gagal tampil dengan kesejatiannya dan tanggung jawabnya sendiri.
Dari berbagai pemikiran eksistensialis: tekanan pada EKSISTENSI PRIBADI sebagai individu adalah yang paling menonjol. Kesamaan manusia hanyalah di hadapan Tuhan, bagi SK.
SK: Soren Kierkegaard
Referensi dari Fuad Hassan
Massa atau kolektivitas, manusia bukan saja dirampas ketunggalannya, tetapi juga direduksi menjadi fraksi bahkan berkurang kesadaran tanggungjawabnya atau melemah rasa tanggung jawabnya diantara kerumunan itu. Manusia melupakan makna eksistensi dan lupa pentingnya mawas diri.
SK akhirnya menyatakan bahwa Subyektifitas merupakan Kebenaran Pertama. Dasar bagi eksistensi pribadi. Subyektifitas adalah TUGAS bagi setiap manusia.
"...becoming subjective is the task proposed to every human being."
Mengada sebagai manusia bukan hanya fakta, lebih dari itu. Eksistensi adalah tugas bagi manusia. Eksistensi itu dijalani dengan kesejatian sehingga tidak semu, sehingga menjadi sesuatu yang etis dan religius. Eksistensi itu disertai tanggung jawab- bukan seperti berlindung dibalik kedok massa. Jadi eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan serta bertindak atas tanggung jawabnya sendiri.
Publik massa adalah abstraksi dan bukan realitas. Yang berbahaya adalah ketika publik dianggap nyata. Misal, rakyat.... pertanyaannya rakyat yang mana?
"Publik, yang merupakan segala-galanya dan sekaligus ketiadaan, adalah kekuatan paling berbahaya dan yang paling berarti: orang bisa berpidato kepada seluruh bangsa atas nama publik, tetapi bagaimanapun publik adalah kurang artinya dibandingkan dengan seorang manusia tunggal, betapapun ia tak penting."
Orang sering berusaha untuk diperhitungkan dengan masuk dalam kelompok atau menggalang kekuatan bersama. Ini adalah bukti bahwa orang demikian tidak mampu untuk tampil sendiri secara berarti. Mengandalkan kekuatan massa adalah kelemahan etis.
Merupakan kekeliruan bila individu bergabung dalam suatu kelompok karena gagal tampil dengan kesejatiannya dan tanggung jawabnya sendiri.
Dari berbagai pemikiran eksistensialis: tekanan pada EKSISTENSI PRIBADI sebagai individu adalah yang paling menonjol. Kesamaan manusia hanyalah di hadapan Tuhan, bagi SK.
SK: Soren Kierkegaard
Referensi dari Fuad Hassan
Kebebasan yang Bertanggungjawab [SK]
Hidup bukan seperti yang kita pikirkan, tetapi yang kita hayati. Semakin mendalam penghayatan, semakin berarti. Yang nyata adalah yang rasional dan yang rasional adalah yang nyata merupakan akal pikiran belaka. Dalam ilmu pengetahuan sering ada kesemuan-kesemuan tak bermakna yang diciptakan oleh rasio. Kemampuan rasio yang menjadi jenderal sehingga cuma itu menjadi alat untuk memahami kenyataan. Sehingga yang terjadi di sisi lain adalah kenyataan itu dinyatakan dalam rumus-rumus umum- yang disepakati secara rasio bersama-sama sehingga yang universal adalah benar, bukan yang partikular.
Dalam kasus UU APP maka kebenaran universal lewat wakil-wakil rakyat menjadi benar dan menafikkan kebenaran partikular. Jadi negara berhak membuat moral sebagai pijakan untuk membuat kebenaran umum dan masuk dalam ranah privat masyarakat semisal persoalan seks.
Kebenaran universal berdasarkan rasio itu dipertahankan masyarakat demi keobyektifan. SK menggugat bahwa pangkal tolak pengamatan segala sesuatu itu: bukankah manusia? Manusia sebagai kenyataan subyektif. Titik pangkalnya kembali kepada manusia. Manusia yang membuat pemikiran itu. Subyek yang menjadi eksistensinya. Subyektifitas manusia ini adalah individual.
Eksistensi kita sebagai manusia dengan subyektifitasnya adalah manusia yang konkret dan nyata, bukan yang dipukul rata -massalisasi- dan bukan pula yang obyektif.
Manusia merupakan pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apa yang diambil tidak mungkin mantap dan sempurna, karena selalu menghadapi tuntutan untuk mengambil keputusan yang terus menerus. Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Pilihan pertama, menyangkut apa yang baik dan apa yang buruk. Setelah dia menetapkan pilihan diantara keduanya baru keputusan itu menjadi bermakna. Hidup itu berpihak.
Bila manusia itu tidak berani berpihak, maka ia tidak menjalani eksistensinya.
Karena itu untuk memilih dan membuat keputusan, manusia harus bebas. Freedom.
Artinya, ia harus mempertanggungjawabkan dirinya, maka kebebasan untuk memilih dan memutuskan menjadi bermakna pula.
Inilah yang menjadi dasar slogan: Kebebasan yang Bertanggungjawab.
Yang prasyaratnya hadirnya kebebasan untuk mengambil keputusan.
Semua tindakannya tidak lepas dari tanggung jawab sebagai suatu sikap etis bukan sekadar estetis.
[SK] Soren Kierkegaard
Referensi dari Fuad Hassan
Dalam kasus UU APP maka kebenaran universal lewat wakil-wakil rakyat menjadi benar dan menafikkan kebenaran partikular. Jadi negara berhak membuat moral sebagai pijakan untuk membuat kebenaran umum dan masuk dalam ranah privat masyarakat semisal persoalan seks.
Kebenaran universal berdasarkan rasio itu dipertahankan masyarakat demi keobyektifan. SK menggugat bahwa pangkal tolak pengamatan segala sesuatu itu: bukankah manusia? Manusia sebagai kenyataan subyektif. Titik pangkalnya kembali kepada manusia. Manusia yang membuat pemikiran itu. Subyek yang menjadi eksistensinya. Subyektifitas manusia ini adalah individual.
Eksistensi kita sebagai manusia dengan subyektifitasnya adalah manusia yang konkret dan nyata, bukan yang dipukul rata -massalisasi- dan bukan pula yang obyektif.
Manusia merupakan pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apa yang diambil tidak mungkin mantap dan sempurna, karena selalu menghadapi tuntutan untuk mengambil keputusan yang terus menerus. Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Pilihan pertama, menyangkut apa yang baik dan apa yang buruk. Setelah dia menetapkan pilihan diantara keduanya baru keputusan itu menjadi bermakna. Hidup itu berpihak.
Bila manusia itu tidak berani berpihak, maka ia tidak menjalani eksistensinya.
Karena itu untuk memilih dan membuat keputusan, manusia harus bebas. Freedom.
Artinya, ia harus mempertanggungjawabkan dirinya, maka kebebasan untuk memilih dan memutuskan menjadi bermakna pula.
Inilah yang menjadi dasar slogan: Kebebasan yang Bertanggungjawab.
Yang prasyaratnya hadirnya kebebasan untuk mengambil keputusan.
Semua tindakannya tidak lepas dari tanggung jawab sebagai suatu sikap etis bukan sekadar estetis.
[SK] Soren Kierkegaard
Referensi dari Fuad Hassan
SOREN KIERKEGAARD
Menarik melihat Kierkegaard memandang sinis bahwa yang nyata adalah yang rasional dan yang rasional adalah yang nyata. Artinya, apa yang nyata itu harus dikembalikan pada nilai- sesuatu yang tak nyata dan terletak diluar jangkauan akal budi.
Kierkegaard bisa dikatakan sebagai fondasi dari lahirnya aliran eksistensialisme yang semakin memuncak setelah Perang Dunia II. Bagi dia, subyek adalah dasar dari segala pemikiran. Jadi, yang dilihat adalah fakta dari eksistensi individu. Bukan pada sifat individu, juga bukan pada pengetahuan tentang dunia yang ditarik dari sifat individu itu. Bukan merupakan usaha untuk menyimpulkan dengan suatu gagasan yang universal.
Dalam sebuah individu, ada intisari spirit sebagai subyektivitas. Subyektivitas ini yang bagi Kierkegaard bisa berupa penderitaan, keprihatinan, sehingga tanpa subyektivitas maka kebebasan, etis, dan harapan akan pembebasan religius tidak dapat dilampaui.
Alam pikir Kierkegaard dimulai dan diakhiri dari individu yaitu subyektivitas. Nah, yang menarik untuk menjelaskan subyektivitas maka diperlukan sistem tentang eksistensi. Sebaliknya sistem eksistensi tidak mungkin dijalankan karena setiap sistem akan mengabstraksikan apa yang dilihat dari individu; maka dia akan mengingkari yang merupakan arti penting; yaitu eksistensi itu sendiri.
Wah, kalau begini, sama saja kita mencoba mengartikan cinta, justru mana kala kita mengartikan cinta itulah pada saat yang sama arti cinta itu pudar adanya. Jadi, jangan diarti-artikan cinta itu apa, cinta sebagai eksistensi tidak boleh diabstraksikan karena akan kehilangan maknanya. Jadi? Lebih baik di foto aja kali ya, kan foto menggambarkan seribu makna ketimbang abstraksi kata-kata.
Referensi dari Roger Scruton
Menarik melihat Kierkegaard memandang sinis bahwa yang nyata adalah yang rasional dan yang rasional adalah yang nyata. Artinya, apa yang nyata itu harus dikembalikan pada nilai- sesuatu yang tak nyata dan terletak diluar jangkauan akal budi.
Kierkegaard bisa dikatakan sebagai fondasi dari lahirnya aliran eksistensialisme yang semakin memuncak setelah Perang Dunia II. Bagi dia, subyek adalah dasar dari segala pemikiran. Jadi, yang dilihat adalah fakta dari eksistensi individu. Bukan pada sifat individu, juga bukan pada pengetahuan tentang dunia yang ditarik dari sifat individu itu. Bukan merupakan usaha untuk menyimpulkan dengan suatu gagasan yang universal.
Dalam sebuah individu, ada intisari spirit sebagai subyektivitas. Subyektivitas ini yang bagi Kierkegaard bisa berupa penderitaan, keprihatinan, sehingga tanpa subyektivitas maka kebebasan, etis, dan harapan akan pembebasan religius tidak dapat dilampaui.
Alam pikir Kierkegaard dimulai dan diakhiri dari individu yaitu subyektivitas. Nah, yang menarik untuk menjelaskan subyektivitas maka diperlukan sistem tentang eksistensi. Sebaliknya sistem eksistensi tidak mungkin dijalankan karena setiap sistem akan mengabstraksikan apa yang dilihat dari individu; maka dia akan mengingkari yang merupakan arti penting; yaitu eksistensi itu sendiri.
Wah, kalau begini, sama saja kita mencoba mengartikan cinta, justru mana kala kita mengartikan cinta itulah pada saat yang sama arti cinta itu pudar adanya. Jadi, jangan diarti-artikan cinta itu apa, cinta sebagai eksistensi tidak boleh diabstraksikan karena akan kehilangan maknanya. Jadi? Lebih baik di foto aja kali ya, kan foto menggambarkan seribu makna ketimbang abstraksi kata-kata.
Referensi dari Roger Scruton
Senin, 01 Desember 2008
Minggu, 30 November 2008
Alienasi *****
Erich Fromm, seorang aliran eksistensialis mengatakan bahwa kenyataan manusia muncul dari kerajaan binatang, dari adaptasi naluri, bahwa ia telah mengatasi alam - meskipun ia tidak pernah meninggalkannya; ia adalah bagian dari alam ini namun pada suatu saat ia dibuang dari firdaus - suatu kebersatuan asali dengan alam cherubim dengan pedang menyala menutup jalannya jika ia mau mencoba kembali.
Ketika manusia menemukan cinta, atau lebih tepatnya persamaan cinta, dalam dunia hewan, keterikatannya terutama adalah bagian daripada peralatan naluri; hanya sisa dari peralatan naluri itu dapat dilihat bekerja dalam diri manusia.
Manusia hanya dapat bergerak maju dengan mengembangkan akal budinya, dengan menemukan keserasian baru, keserasian manusiawi sebagai ganti keserasian pramanusiawi yang sudah hilang dan tak bisa diperoleh kembali.
Ketika manusia lahir, bangsa manusia dan juga individu, terlempar dari keadaan pasti, seperti naluri, ke dalam keadaan tak pasti, tak tentu, dan terbuka. Hanya ada kepastian tentang masa lampau- sedang tentang masa depan hanya akan berakhir dengan kematian.
***
Manusia dianugerahi akal budi, sehingga ia menyadari akan kesepian dan keterpisahannya, akan ketidakberdayaannya di hadapan kekuatan alam dan masyarakat, semuanya ini membuat eksistensinya terpisah dan terpecah belah itu menjadi suatu penjara yang tak tertahankan.
Ia akan menjadi gila seandainya ia tidak sanggup membebaskan diri dari penjara ini dan menjangkau keluar, menyatukan dirinya dalam satu atau lain bentuk dengan orang-orang lain, dengan dunia luar.
Demikian Fromm
Erich Fromm, seorang aliran eksistensialis mengatakan bahwa kenyataan manusia muncul dari kerajaan binatang, dari adaptasi naluri, bahwa ia telah mengatasi alam - meskipun ia tidak pernah meninggalkannya; ia adalah bagian dari alam ini namun pada suatu saat ia dibuang dari firdaus - suatu kebersatuan asali dengan alam cherubim dengan pedang menyala menutup jalannya jika ia mau mencoba kembali.
Ketika manusia menemukan cinta, atau lebih tepatnya persamaan cinta, dalam dunia hewan, keterikatannya terutama adalah bagian daripada peralatan naluri; hanya sisa dari peralatan naluri itu dapat dilihat bekerja dalam diri manusia.
Manusia hanya dapat bergerak maju dengan mengembangkan akal budinya, dengan menemukan keserasian baru, keserasian manusiawi sebagai ganti keserasian pramanusiawi yang sudah hilang dan tak bisa diperoleh kembali.
Ketika manusia lahir, bangsa manusia dan juga individu, terlempar dari keadaan pasti, seperti naluri, ke dalam keadaan tak pasti, tak tentu, dan terbuka. Hanya ada kepastian tentang masa lampau- sedang tentang masa depan hanya akan berakhir dengan kematian.
***
Manusia dianugerahi akal budi, sehingga ia menyadari akan kesepian dan keterpisahannya, akan ketidakberdayaannya di hadapan kekuatan alam dan masyarakat, semuanya ini membuat eksistensinya terpisah dan terpecah belah itu menjadi suatu penjara yang tak tertahankan.
Ia akan menjadi gila seandainya ia tidak sanggup membebaskan diri dari penjara ini dan menjangkau keluar, menyatukan dirinya dalam satu atau lain bentuk dengan orang-orang lain, dengan dunia luar.
Demikian Fromm
Label:
Estetika Erotis
Minggu, 16 November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Estetika Erotis: Bagian Kedua
Keindahan Ketubuhan
Manifestasi penting keindahan sebagai pengalaman ketubuhan yang mendekati dunia alamiah seperti hewan adalah pengalaman hubungan seks, demikian Faruk HT. Seks itu merupakan pengalaman yang menyenangkan dan menimbulkan hasrat untuk terus mendapatkannya. Kesenangan dan hasrat itu merupakan hasil dari keindahan.
Keindahan sesekali merupakan refleksi dari situasi dan masalah masyarakat sebagai hasil interaksi terus-menerus dengan nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya.
Keindahan merupakan terjemahan estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial, atau pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Artinya, keindahan itu merupakan hasil dari kebudayaan.
Tentu saja, keindahan itu berubah dari waktu kewaktu sesuai dengan perubahan kebudayaan.
Contoh digambarkan oleh Sardono bahwa tari tradisional menguak kunci tentang bagaimana persoalan ekonomi, ekologi, masalah religius atau konflik kejiwaan suatu kelompok etnis mendapat pengungkapannya secara koreografis. Jadi melihat tarian berarti memahami struktur terdalam suatu masyarakat.
Demikian pula melihat seksualitas dari suatu sudut pandang akan terlihat struktur suatu masyarakat. Jadi, seksualitas merupakan hasil interaksi nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan.
Manifestasi penting keindahan sebagai pengalaman ketubuhan yang mendekati dunia alamiah seperti hewan adalah pengalaman hubungan seks, demikian Faruk HT. Seks itu merupakan pengalaman yang menyenangkan dan menimbulkan hasrat untuk terus mendapatkannya. Kesenangan dan hasrat itu merupakan hasil dari keindahan.
Keindahan sesekali merupakan refleksi dari situasi dan masalah masyarakat sebagai hasil interaksi terus-menerus dengan nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya.
Keindahan merupakan terjemahan estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial, atau pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Artinya, keindahan itu merupakan hasil dari kebudayaan.
Tentu saja, keindahan itu berubah dari waktu kewaktu sesuai dengan perubahan kebudayaan.
Contoh digambarkan oleh Sardono bahwa tari tradisional menguak kunci tentang bagaimana persoalan ekonomi, ekologi, masalah religius atau konflik kejiwaan suatu kelompok etnis mendapat pengungkapannya secara koreografis. Jadi melihat tarian berarti memahami struktur terdalam suatu masyarakat.
Demikian pula melihat seksualitas dari suatu sudut pandang akan terlihat struktur suatu masyarakat. Jadi, seksualitas merupakan hasil interaksi nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan.
Communitization
Akhir-akhir ini Pak Hermawan suka sekali dengan Communitization. Secara offline digambarkan via buku Mangan Ora Mangan Kumpul karyanya Umar Kayam. Secara online digambarkan via Fesbuk (FaceBook) untuk menggambarkan jaringan yang terbentuk.
Jadi ditekankan bahwa pada era marketing sekarang persoalan bukan lagi tentang Segmentasi, Target, dan Posisi dari suatu produk dengan menciptakan Customer Relationship Management yang penuh dengan data-data konsumen tetapi pasif alias data hanya sebagai data mati. Untuk bertahan ada interaksi antara perusahaan dan pelanggannya. Apalagi ditambah dengan kesamaan nilai-nilai (values).
Berandai-andai:
Jadi bila kita mau jual cendol, kita perlu membuat komunitas kuliner pecinta cendol. Wah, menarik juga ya. Nanti kita buat kartu anggota pecinta cendol, kalau beli dengan menunjukkan kartu anggota masih dapet diskon, dan juga sebagai anggota nanti mendapat newsletter tentang perkembangan cendol terkini. Misal, available now, cendol dengan topping strawberry. Nyamnyam....
Nah, kemudian digelar gathering untuk membahas tentang cendol tiap bulan dan disediakan alamat email untuk memberi masukan, cendol seperti apa yang diinginkan pelanggan.
Setiap setengah tahun diadakan seminar: Cendol: kuliner genuine masyarakat: akar sejarah dan budaya, yang menengahkan bahwa penikmat cendol ini secara budaya merupakan orang-orang yang cinta tanah air, karena lidahnya sangat indonesia.
Terus digelar juga ekhibisi ke kota-kota untuk memperkenalkan cendol baru. Di buka gerai-gerai di tiap kabupaten, dibentuk komunitas pecinta cendol. Brand Image diangkat setara dengan Starbucks: pour your heart into cendol.
Nah loh.
Akhir-akhir ini Pak Hermawan suka sekali dengan Communitization. Secara offline digambarkan via buku Mangan Ora Mangan Kumpul karyanya Umar Kayam. Secara online digambarkan via Fesbuk (FaceBook) untuk menggambarkan jaringan yang terbentuk.
Jadi ditekankan bahwa pada era marketing sekarang persoalan bukan lagi tentang Segmentasi, Target, dan Posisi dari suatu produk dengan menciptakan Customer Relationship Management yang penuh dengan data-data konsumen tetapi pasif alias data hanya sebagai data mati. Untuk bertahan ada interaksi antara perusahaan dan pelanggannya. Apalagi ditambah dengan kesamaan nilai-nilai (values).
Berandai-andai:
Jadi bila kita mau jual cendol, kita perlu membuat komunitas kuliner pecinta cendol. Wah, menarik juga ya. Nanti kita buat kartu anggota pecinta cendol, kalau beli dengan menunjukkan kartu anggota masih dapet diskon, dan juga sebagai anggota nanti mendapat newsletter tentang perkembangan cendol terkini. Misal, available now, cendol dengan topping strawberry. Nyamnyam....
Nah, kemudian digelar gathering untuk membahas tentang cendol tiap bulan dan disediakan alamat email untuk memberi masukan, cendol seperti apa yang diinginkan pelanggan.
Setiap setengah tahun diadakan seminar: Cendol: kuliner genuine masyarakat: akar sejarah dan budaya, yang menengahkan bahwa penikmat cendol ini secara budaya merupakan orang-orang yang cinta tanah air, karena lidahnya sangat indonesia.
Terus digelar juga ekhibisi ke kota-kota untuk memperkenalkan cendol baru. Di buka gerai-gerai di tiap kabupaten, dibentuk komunitas pecinta cendol. Brand Image diangkat setara dengan Starbucks: pour your heart into cendol.
Nah loh.
Label:
Membaca Hermawan
Kamis, 02 Oktober 2008
Estetika Erotis: Bagian Pertama
Bagian Pertama
Norma dalam menakar seks?
Situasi kontemporer memaparkan dunia perbatasan. Moral yang berada di tengah atau moral abu-abu. Dunia yang belum lepas dari tradisi lama namun belum mencapai kemapanan nilai. Moral abu-abu ini membuat kegamangan tentang mana yang baik dan yang tidak.
"Umur 13 sudah berhubungan intim dengan teman sekelas. Sejak itu tidak mau lagi pacaran serius. Gonta-ganti cowok dan berhubungan intim hanya untuk senang-senang saja...."
"Saya sering bolos. Nongkrong di cafe terus lanjut ke hotel. Kalau sudah on saya punya kebiasaan tripping di pangkuan orang, nggak peduli cowok atau cewek."
"Kegadisanku hilang di Sydney. Setelah itu kerajingan untuk bersebadan."
"Lampu dim, masuk mobil. Seks, oke. Easy going, karena virginitasnya sudah terlanjur dicaplok pacarnya. Hanya untuk uang taksi dan belanja sedikit di toko, kebutuhan sehari-hari, baju atau apa saja, ia rela dibawa."
(Kompas, 29 September 1996)
Lagi-lagi perempuan sebagai contoh, ya.
Nah, kalau gitu lanjut tentang iklan perempuan di media.
Ini menjadi Manajemen Tubuh
Kata Ade Armando, tubuh perempuan menyangkut ukuran, bentuk, dan keserasian lebih penting daripada kualitas kemanusiaan ketika itu menyangkut media, agar media laku. Perempuan adalah santapan minat visual pria. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kejenuhan terhadap ketelanjangan, tetapi butuh variasi-variasi ketelanjangan yang lain. Turunan dari ketelanjangan-ketelanjangan.
Hidup konsumen menciptakan kebudayaan hawa nafsu untuk kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan seks. Inilah Ekonomi Libido, kata Baudillaurd.
Bagaimana menakarnya?
Seks dalam konteks norma patut dilihat sebagai keangkuhan kaum victorian, demikian kata Foucault. Maka seks itu tabu, dilarang membicarakannya, menutup mata, menyumbat telinga.
Represi untuk memaksakan kebungkaman menyeluruh dan patuh.
"Yasmin, aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?"
(Ayu Utami, Saman,1998)
Norma dalam menakar seks?
Situasi kontemporer memaparkan dunia perbatasan. Moral yang berada di tengah atau moral abu-abu. Dunia yang belum lepas dari tradisi lama namun belum mencapai kemapanan nilai. Moral abu-abu ini membuat kegamangan tentang mana yang baik dan yang tidak.
"Umur 13 sudah berhubungan intim dengan teman sekelas. Sejak itu tidak mau lagi pacaran serius. Gonta-ganti cowok dan berhubungan intim hanya untuk senang-senang saja...."
"Saya sering bolos. Nongkrong di cafe terus lanjut ke hotel. Kalau sudah on saya punya kebiasaan tripping di pangkuan orang, nggak peduli cowok atau cewek."
"Kegadisanku hilang di Sydney. Setelah itu kerajingan untuk bersebadan."
"Lampu dim, masuk mobil. Seks, oke. Easy going, karena virginitasnya sudah terlanjur dicaplok pacarnya. Hanya untuk uang taksi dan belanja sedikit di toko, kebutuhan sehari-hari, baju atau apa saja, ia rela dibawa."
(Kompas, 29 September 1996)
Lagi-lagi perempuan sebagai contoh, ya.
Nah, kalau gitu lanjut tentang iklan perempuan di media.
Ini menjadi Manajemen Tubuh
Kata Ade Armando, tubuh perempuan menyangkut ukuran, bentuk, dan keserasian lebih penting daripada kualitas kemanusiaan ketika itu menyangkut media, agar media laku. Perempuan adalah santapan minat visual pria. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kejenuhan terhadap ketelanjangan, tetapi butuh variasi-variasi ketelanjangan yang lain. Turunan dari ketelanjangan-ketelanjangan.
Hidup konsumen menciptakan kebudayaan hawa nafsu untuk kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan seks. Inilah Ekonomi Libido, kata Baudillaurd.
Bagaimana menakarnya?
Seks dalam konteks norma patut dilihat sebagai keangkuhan kaum victorian, demikian kata Foucault. Maka seks itu tabu, dilarang membicarakannya, menutup mata, menyumbat telinga.
Represi untuk memaksakan kebungkaman menyeluruh dan patuh.
"Yasmin, aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?"
(Ayu Utami, Saman,1998)
Senin, 29 September 2008
Membaca Hermawan
Untuk mengasah dan mengingat-ingat kembali Marketing, maka saya mencoba untuk "membaca Hermawan" yang kolomnya muncul di Kompas Cetak dan memberikan pendapat-pendapat saya pribadi.
Label:
Membaca Hermawan
Langganan:
Postingan (Atom)