Alienasi *****
Erich Fromm, seorang aliran eksistensialis mengatakan bahwa kenyataan manusia muncul dari kerajaan binatang, dari adaptasi naluri, bahwa ia telah mengatasi alam - meskipun ia tidak pernah meninggalkannya; ia adalah bagian dari alam ini namun pada suatu saat ia dibuang dari firdaus - suatu kebersatuan asali dengan alam cherubim dengan pedang menyala menutup jalannya jika ia mau mencoba kembali.
Ketika manusia menemukan cinta, atau lebih tepatnya persamaan cinta, dalam dunia hewan, keterikatannya terutama adalah bagian daripada peralatan naluri; hanya sisa dari peralatan naluri itu dapat dilihat bekerja dalam diri manusia.
Manusia hanya dapat bergerak maju dengan mengembangkan akal budinya, dengan menemukan keserasian baru, keserasian manusiawi sebagai ganti keserasian pramanusiawi yang sudah hilang dan tak bisa diperoleh kembali.
Ketika manusia lahir, bangsa manusia dan juga individu, terlempar dari keadaan pasti, seperti naluri, ke dalam keadaan tak pasti, tak tentu, dan terbuka. Hanya ada kepastian tentang masa lampau- sedang tentang masa depan hanya akan berakhir dengan kematian.
***
Manusia dianugerahi akal budi, sehingga ia menyadari akan kesepian dan keterpisahannya, akan ketidakberdayaannya di hadapan kekuatan alam dan masyarakat, semuanya ini membuat eksistensinya terpisah dan terpecah belah itu menjadi suatu penjara yang tak tertahankan.
Ia akan menjadi gila seandainya ia tidak sanggup membebaskan diri dari penjara ini dan menjangkau keluar, menyatukan dirinya dalam satu atau lain bentuk dengan orang-orang lain, dengan dunia luar.
Demikian Fromm
Tampilkan postingan dengan label Estetika Erotis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Estetika Erotis. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Estetika Erotis: Bagian Kedua
Keindahan Ketubuhan
Manifestasi penting keindahan sebagai pengalaman ketubuhan yang mendekati dunia alamiah seperti hewan adalah pengalaman hubungan seks, demikian Faruk HT. Seks itu merupakan pengalaman yang menyenangkan dan menimbulkan hasrat untuk terus mendapatkannya. Kesenangan dan hasrat itu merupakan hasil dari keindahan.
Keindahan sesekali merupakan refleksi dari situasi dan masalah masyarakat sebagai hasil interaksi terus-menerus dengan nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya.
Keindahan merupakan terjemahan estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial, atau pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Artinya, keindahan itu merupakan hasil dari kebudayaan.
Tentu saja, keindahan itu berubah dari waktu kewaktu sesuai dengan perubahan kebudayaan.
Contoh digambarkan oleh Sardono bahwa tari tradisional menguak kunci tentang bagaimana persoalan ekonomi, ekologi, masalah religius atau konflik kejiwaan suatu kelompok etnis mendapat pengungkapannya secara koreografis. Jadi melihat tarian berarti memahami struktur terdalam suatu masyarakat.
Demikian pula melihat seksualitas dari suatu sudut pandang akan terlihat struktur suatu masyarakat. Jadi, seksualitas merupakan hasil interaksi nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan.
Manifestasi penting keindahan sebagai pengalaman ketubuhan yang mendekati dunia alamiah seperti hewan adalah pengalaman hubungan seks, demikian Faruk HT. Seks itu merupakan pengalaman yang menyenangkan dan menimbulkan hasrat untuk terus mendapatkannya. Kesenangan dan hasrat itu merupakan hasil dari keindahan.
Keindahan sesekali merupakan refleksi dari situasi dan masalah masyarakat sebagai hasil interaksi terus-menerus dengan nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya.
Keindahan merupakan terjemahan estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial, atau pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Artinya, keindahan itu merupakan hasil dari kebudayaan.
Tentu saja, keindahan itu berubah dari waktu kewaktu sesuai dengan perubahan kebudayaan.
Contoh digambarkan oleh Sardono bahwa tari tradisional menguak kunci tentang bagaimana persoalan ekonomi, ekologi, masalah religius atau konflik kejiwaan suatu kelompok etnis mendapat pengungkapannya secara koreografis. Jadi melihat tarian berarti memahami struktur terdalam suatu masyarakat.
Demikian pula melihat seksualitas dari suatu sudut pandang akan terlihat struktur suatu masyarakat. Jadi, seksualitas merupakan hasil interaksi nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam kebudayaan.
Kamis, 02 Oktober 2008
Estetika Erotis: Bagian Pertama
Bagian Pertama
Norma dalam menakar seks?
Situasi kontemporer memaparkan dunia perbatasan. Moral yang berada di tengah atau moral abu-abu. Dunia yang belum lepas dari tradisi lama namun belum mencapai kemapanan nilai. Moral abu-abu ini membuat kegamangan tentang mana yang baik dan yang tidak.
"Umur 13 sudah berhubungan intim dengan teman sekelas. Sejak itu tidak mau lagi pacaran serius. Gonta-ganti cowok dan berhubungan intim hanya untuk senang-senang saja...."
"Saya sering bolos. Nongkrong di cafe terus lanjut ke hotel. Kalau sudah on saya punya kebiasaan tripping di pangkuan orang, nggak peduli cowok atau cewek."
"Kegadisanku hilang di Sydney. Setelah itu kerajingan untuk bersebadan."
"Lampu dim, masuk mobil. Seks, oke. Easy going, karena virginitasnya sudah terlanjur dicaplok pacarnya. Hanya untuk uang taksi dan belanja sedikit di toko, kebutuhan sehari-hari, baju atau apa saja, ia rela dibawa."
(Kompas, 29 September 1996)
Lagi-lagi perempuan sebagai contoh, ya.
Nah, kalau gitu lanjut tentang iklan perempuan di media.
Ini menjadi Manajemen Tubuh
Kata Ade Armando, tubuh perempuan menyangkut ukuran, bentuk, dan keserasian lebih penting daripada kualitas kemanusiaan ketika itu menyangkut media, agar media laku. Perempuan adalah santapan minat visual pria. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kejenuhan terhadap ketelanjangan, tetapi butuh variasi-variasi ketelanjangan yang lain. Turunan dari ketelanjangan-ketelanjangan.
Hidup konsumen menciptakan kebudayaan hawa nafsu untuk kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan seks. Inilah Ekonomi Libido, kata Baudillaurd.
Bagaimana menakarnya?
Seks dalam konteks norma patut dilihat sebagai keangkuhan kaum victorian, demikian kata Foucault. Maka seks itu tabu, dilarang membicarakannya, menutup mata, menyumbat telinga.
Represi untuk memaksakan kebungkaman menyeluruh dan patuh.
"Yasmin, aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?"
(Ayu Utami, Saman,1998)
Norma dalam menakar seks?
Situasi kontemporer memaparkan dunia perbatasan. Moral yang berada di tengah atau moral abu-abu. Dunia yang belum lepas dari tradisi lama namun belum mencapai kemapanan nilai. Moral abu-abu ini membuat kegamangan tentang mana yang baik dan yang tidak.
"Umur 13 sudah berhubungan intim dengan teman sekelas. Sejak itu tidak mau lagi pacaran serius. Gonta-ganti cowok dan berhubungan intim hanya untuk senang-senang saja...."
"Saya sering bolos. Nongkrong di cafe terus lanjut ke hotel. Kalau sudah on saya punya kebiasaan tripping di pangkuan orang, nggak peduli cowok atau cewek."
"Kegadisanku hilang di Sydney. Setelah itu kerajingan untuk bersebadan."
"Lampu dim, masuk mobil. Seks, oke. Easy going, karena virginitasnya sudah terlanjur dicaplok pacarnya. Hanya untuk uang taksi dan belanja sedikit di toko, kebutuhan sehari-hari, baju atau apa saja, ia rela dibawa."
(Kompas, 29 September 1996)
Lagi-lagi perempuan sebagai contoh, ya.
Nah, kalau gitu lanjut tentang iklan perempuan di media.
Ini menjadi Manajemen Tubuh
Kata Ade Armando, tubuh perempuan menyangkut ukuran, bentuk, dan keserasian lebih penting daripada kualitas kemanusiaan ketika itu menyangkut media, agar media laku. Perempuan adalah santapan minat visual pria. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kejenuhan terhadap ketelanjangan, tetapi butuh variasi-variasi ketelanjangan yang lain. Turunan dari ketelanjangan-ketelanjangan.
Hidup konsumen menciptakan kebudayaan hawa nafsu untuk kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan seks. Inilah Ekonomi Libido, kata Baudillaurd.
Bagaimana menakarnya?
Seks dalam konteks norma patut dilihat sebagai keangkuhan kaum victorian, demikian kata Foucault. Maka seks itu tabu, dilarang membicarakannya, menutup mata, menyumbat telinga.
Represi untuk memaksakan kebungkaman menyeluruh dan patuh.
"Yasmin, aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan begitu cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah?"
(Ayu Utami, Saman,1998)
Langganan:
Postingan (Atom)