Memaknai 70 Tahun SMP Santo Yosef Lahat
Rasanya sayang bila 70 tahun dilewati begitu saja. Angka 70 itu merupakan angka luar biasa bagi sebuah sekolah. Seumur-umur sekolah, cuma sekolah satu ini yang umurnya begitu panjang. SMA yang kulalui saja, tahun ini baru berumur 60 tahun. Apalagi universitas swasta yang kujalani, baru dalam digit kecil, juga universitas negri satu lagi yang kujalani juga umurnya tidak setua 70 tahun. Jadi saya membayangkan, betapa misi Santo Yosef di Lahat sudah diemban begitu lama. Ini sebuah angka luar biasa untuk dedikasi pendidikan.
Lahat sebenarnya dari dulu sudah diperhitungkan sebagai kota pendidikan. Santo Yosef (yang murid-muridnyo kito sering sebut Budak Santo Yosef –Sty) memiliki nama besar di Sumatera Selatan. Saya rasa semua rata-rata pasti mengenal Santo Yosef Lahat bila bermukin di Sumatera Selatan. [BTW, saya tidak tahu kalau kondisi mutakhir sekarang, setidaknya di jaman saya Santo Yosef belum ada duanya di Lahat]
Pada waktu dulu banyak teman-teman yang bukan dari Lahat tinggal di Lahat hanya untuk dapat sekolah di Sty. Dulu masih ada Asrama Laki-Laki St. Pius di Gereja Katolik St. Maria dan Asrama Perempuan Maria Goretti di dekat TK. [Setahu saya St. Pius sudah tidak ada lagi, dan Maria Goretti pun mungkin sudah jadi tempat tinggal suster ya?]
Dulu masuk ke Sty, ya jelas karena itu satu-satunya pilihan terbaik. Secara tradisional semua di keluarga saya pasti masuk Sty. Pun nyatanya sekarang anak saya pun masuk TK Sty. Semua masuk Sty, dan lucunya lagi semua saudara saya tidak ada yang lulus dari SMA Santo Yosef. Jadi kami semua sekeluarga adalah alumnus SMP Sty bukan SMA Sty.
Kembali memaknainya; ketika bermain kembali ke sekolah, saya melihat Sty yang sama persis dengan Sty yang saya lalui mungkin 20 tahunan yang lalu. Secara fisik tidak ada perubahan yang mendasar. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah sarana fisik seperti perpustakaan, laboratorium baik fisika, biologi, sosial, atau bahasa sudah hadir di sana. Kadangkala sarana-sarana seperti itu sangat membantu pendidikan- selain juga ekskul- untuk menuju Sty yang “strive for excellent”. Tentu saja ini berorientasi supaya murid Sty selalu memiliki pendidikan yang sukses secara akademis.
Selain sukses akademis yang mungkin juga berbuntut pada sukses karir, pendidikan tidak serta merta persoalan nilai rapor. Dibalik itu adalah roh pendidikan itu sendiri. Sebenarnya apa yang saya tangkap dari roh pendidikan di Sty?
Pembinaan kepribadian. Selama di Sty setidaknya saya mengerti bahwa kita hidup bukan sendirian. No man is an island. Ada orang dan lingkungan sekitar kita. Buat apa kita sukses, tetapi itu adalah kebanggaan sendiri. Tidak perlu kita menjadi orang sukses bergelimang harta, setidaknya kita sukses untuk peduli minimal bertanggungjawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan kalo bisa masyarakat. Kita cukup jadi orang biasa saja, tapi bertanggung jawab untuk diri dan orang lain. Man for others.
Keunikan apa yang bisa kita lihat lagi dari sekolah yang disebut Sty itu? Mungkin teman-teman bisa share kan lagi bersama.
Secara internal baru itu yang bisa diomongin. Secara eksternal, maka kita bicara alumni.
Saya tidak tahu apakah sudah ada Ikatan Alumni? Walaupun sering sebuah ikatan alumni itu sebagai macam ompong, tetapi sebagai sebuah wadah iluni mestinya sesuatu organisasi yang dibutuhkan. Kalau bilang kata, yang penting wajannya ada dulu, baru dipikir mau masak apa.
Kalau toh sudah ada, adakah database mutakhir dari alumni-alumni. Misalnya sekarang ada di mana, kerja di mana, dsb. Setidaknya secara statistik kita bisa tahu, lulusan Sty ini pada mblandang ke mana aja. Ke kota mana saja. Preferensi kuliahnya ke mana aja. Kalau dari observasi awal kebanyakan lulusan Sty banyak lari kalau tidak ke Palembang ya ke Jakarta. Mengapa cuma sekian persen yang lari ke Yogya atau Surabaya misalnya untuk preferensi kuliahnya.
Sebagai perbandingan misalnya, sebagian besar dari alumni SMA saya banyak mengambil pendidikan lanjut di kota yang sama yaitu di Yogyakarta. Preferensi utama adalah UGM bila gagal maka akan mengambil Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Selanjutnya sebagian memilih Universitas Parahiyangan Bandung atau Universitas Petra Surabaya. Sedikit yang mengambil kuliah di Jakarta, misalnya, dengan alasan jauh dari tempat tinggal yang di Yogyakarta. Tetapi ketika kerja, maka sebagian besar memilih Jakarta sebagai tempat bekerja karena koneksi atau teman-teman sebagian besar ada di Jakarta. Dan teman menjadi alasan penting sebagai networking. Jadi networking merupakan kata kunci yang penting bagi alumni.
Berdirinya Milis Sty ini merupakan anugerah yang tak terkira sebagai komunitas dan komunikasi. Walau mungkin yang rajin mengisi sedikit, setidaknya banyak juga yang memonitor. Kalau bisa jumlah member di perbanyak. Kerjasama dengan pihak sekolah untuk melacak alumni-alumni yang ada. Bila perlu bagaimana Milis ini bisa segera dikenali oleh alumni yang lain, misalnya pasanglah badge/banner sebagai link ke milis ini di blog atau web milik kita. [Boz-boz yang pinter IT mungkin bisa nolong, aku dewek dak keruan caronyo. BTW, Sty udah punyo web sendiri belum seh?]
Akhirulkalam, mau kemanakah Sty diusianya yang sudah luar biasa ini?
Mari Bicara!!
Wassalam,
WeWe SMP’87
Tampilkan postingan dengan label Memorabilia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memorabilia. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 April 2008
Langganan:
Postingan (Atom)